Cari Blog Ini

Minggu, 02 September 2012

0 Sabar Dalam Penantian


.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Penantian adalah suatu ujian
Tetapkanlah ku selalu dalam harapan
Karena keimanan tak hanya diucapkan
Adalah ketabahan menghadapi cobaan
[Nasyid : Dans-Penantian]

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Aktivitas hari ini rasanya membuat ku terasa letih. Hari Sabtu memang berbeda dari hari biasanya. Sepulang kerja aku harus memberi privat disebuah bimbingan belajar yang letaknya lumayan jauh dari tempat kerja ku. Selasai memberikan privat aku juga masih harus mengajar adik-adik TPA dimasjid kampung ku. Alhamdulillah Allah masih memberi ku kekuatan untuk menjalani semua rutinitas yang memang harus aku lakukan untuk mencukupi kebutuhan ku dan setidaknya sedikit bisa membantu keluarga ku dan biaya sekolah adik ku.

Diatas singgasana cahaya mentari kian memudar, senjapun kian merona. Ah… ternyata sudah hampir maghrib. Selesai shalat maghrib aku langsung menuju kamar. Ingin sesekali merebahkan tubuh ini melepas segala lelah.

Sejenak ku pandang cermin dikamar ku. Ada sosok wajah yang hadir dalam kaca itu. Ku cermati perlahan-lahan wajah itu. Ku coba elus-elus sosok bayangan yang hadir dalam kaca itu.

“Itukah wajah ku yang sudah nampak layu?”

Ku alihkan pandangan ku kesebuah foto disebelah cermin dinding. Yah, foto ku sepuluh tahun silam bersama teman-teman sekolah diRohis. Tiba-tiba aku terbawa dalam lamunan, mengingat masa-masa sepuluh tahun yang lalu. Saat aku rasakan indahnya kebersamaan dan kekeluargaan bersama teman-teman seperjuangan. Saat itu kami baru semangat-semangatnya belajar ilmu agama. Bagaimana berjilbab yang sesungguhnya, bagaimana harus bergaul dengan lawan jenis dan terlebih bagaimana agar aku bisa menjadi sosok akhwat sejati. Begitu indahnya saat-saat itu, saat tertawa, saat berduka, itulah bagian dari lika-liku perjuangan yang harus aku jalani. Tiga tahun kami bersama menikmati masa-masa mencari jati diri.

Lulus sekolah aku dan teman-teman berpisah karena amanah kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang melanjutkan kuliah, ada yang kerja keLuar Negeri, ada juga yang mencari kerja dikota ternama. Dan aku saat itu memutuskan untuk membantu ibu berdagang dipasar sambil mencari pekerjaan. Alhamdulillah selang enam bulan aku sudah mendapatkan pekerjaan yang tak jauh dari tempat tinggal ku. Meski kami jauh, aku akan selalu mengingat teman-teman ku, karena mereka sudah ku anggap keluarga ku sendiri. Aku juga masih teringat lima tahun yang lalu, teman-teman ku banyak yang sudah menyempurnakan separoh diennya. Begitu bahagianya hati ku kala menerima undangan pernikahan mereka. Hanya aku yang kala itu mungkin belum memikirkan pernikahan, karena aku ingin bekerja untuk membantu biaya sekolah adik ku. Saat ditinggal ayah, ibulah yang menggantikan nahkoda dikeluarga ini.

“Rin… rin…”

Suara ibu tiba-tiba menggugah lamunanku.

“Kenapa kamu pandangi foto itu terus, kangen ya dengan teman-teman lamamu?” tanya ibu yang suaranya terlihat letih karena habis pulang dari pasar.

“Nggak kenapa-napa kok bu…” jawabku sambil gugup.

“Rin… orang-orang kampung sudah banyak menanyakan, kenapa Rin kok belum menikah? Padahal usia Rin juga sudah tua? Teman-teman Rin yang ada difoto itu juga sudah pada nikah semua kan?” kata ibu sambil berlalu dari ku.

Aku hanya diam saja sambil ku elus-elus foto didepan ku, dan tak terasa butiran-butiran kristal keluar dari mata ku. Ingin ku mengadu kehadirat-Nya,

“Ya Allah kenapakah Engkau juga belum mempertemukan ku dengan pendamping hidup ku?”

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Sabarkanlah ku menanti pasangan hati
Tulus kan ku sambut sepenuh jiwa ini
Di dalam asa diri menjemput berkah-Mu
Tibalah izin-Mu atas harapan ini
[Nasyid: Dans-Penantian]

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Malam ini selasai isya’ suasana terasa sangat hening. Ingin rasanya sesekali mengajak adik untuk jalan-jalan keluar rumah menikmati suasana malam minggu. Ku pandangi sekeliling, banyak orang-orang yang juga memanfaatkan malam akhir pekannya bersama keluarga dengan naik mobil, ada juga yang naik motor bersama pasangannya. Ku nikmati suasana malam itu bersama adik ku pergi kepasar malam, dengan naik sepeda mini peninggalan Ayah. Ada banyak jenis mainan, mulai dari kereta mini, pesawat putar, dan berbagai macam jenis makanan juga ada.

“Mbak, aku mau naik kereta mini boleh kan?”

“Boleh. Yuk kita ke pembelian karcis”

Ku penuhi keinginan adik ku, meski kini uang ku sudah menipis. Dani adalah adik ku satu-satunya yang kadang selalu menghibur ku dikala aku dalam kesedihan. Seharusnya aku yang menghiburnya. Karena diusianya yang masih belia nan imut-imut, ia sudah ditinggal ayah pergi untuk selama-lamanya, disaat ia seharusnya membutuhkan sentuhan dan kasih sayang seorang Ayah.

Aku Cuma duduk saja sambil menunggu Dani selesai naik mainan kereta mini. Ku coba-coba mengamati apa yang ada dipasar minggu.

“Hmm… Bau nasi goreng yang sedap”

Sejenak ku alihkan pandangan ku kesebuah warung nasi goreng. Ingin ku merasakannya, tapi apa boleh buat, uang ku sudah menipis. Tiba-tiba aku termenung melihat pasangan muda makan dengan saling menyuapi. Makan sepiring untuk berdua, sungguh menyenangkan. Aku membayangkan, andai itu aku dan pendamping hidup ku, alangkah indahnya. Tak terasa perlahan air mata ini menitik-nitik hingga menetes dijilbab ku. Sesekali ku hembuskan nafas untuk menahan air mata ini.

“Mbak… Mbak nangis ya…”
“Eh… Nggak… nggak napa-napa. Sudah selasai ya”

Dengan agak gugup aku menjawab sapaan adik ku, untuk mengela atas air mata yang tiba-tiba keluar.

“Dik, kita pulang yuk… sudah malam nanti ibu malah marah lagi”

Sampai dirumah aku langsung kekamar. Tak taunya, pandangan diwarung nasi goreng tadi masih terangan-angan dibenak ku.

Jam didinding menunjukkan pukul 00.30, sementara aku belum juga bisa tidur. Perkataan ibu sore tadi membuat ku resah dan gelisah. Tapi apa boleh buat, aku hanya bisa berikhtiar kehadirat-Nya dan bersabar atas cobaan ini. Biarkan semua orang mengatakan aku sebagai perawan tua, asal aku bisa menjaga kehormatan ku ini. Malam ini aku ingin bermunajat kepada-Nya. Memohon ketenangan hati, agar segala harapan ku selama ini cepat terpenuhi. Dalam do’a ku mohon kepada-Nya :

Rabbi teguhkanlah ku dipenantian ku ini
Berikanlah cahaya terang-Mu selalu
Rabbi do’a dan upaya hamba-Mu ini
Hanyalah bersandar semata kepada-Mu
[Senandung : Dans-Penantian]

Lika-liku kehidupan seiring dengan rentangnya waktu ku telusuri dengan pasti tiada henti. Walau aral rintang kan menghadang, mengekang, menembus sepi. Kan kusandarkan amal dan pintaku kehadirat Ilahi Rabbi yang mengukir elok nan indah masa depanku. Rabbi…. kuatkanlah ku dalam menghadapi penantian ini. Ijinkan aku tuk selalu mencintai-Mu, walau apa yang selama ini yang ku harapkan belum jua kutemui. Tapi, bisa mencintai-Mu adalah sebuah kebahagiaan bagiku tersendiri.

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

“Allahuakbar… Allaahuakbar…”

Suara adzan subuh memecahkan alam sunyi. Terdengar kokok ayam yang ikut menghiasi dini hari. Aku masih mengenakan mukenah, tersungkur tidur diatas sajadah yang menemani ku bermunajat, berdo’a disepertiga malam tadi. Segera ku beranjak dari kamar ingin membangunkan ibu dan adik untuk shalat subuh berjamaah dimasjid.

Subhanallah… ku lihat ibu masih duduk diatas sajadahnya, sementara adik ku masih tertidur diatas dipan yang terbuat dari anyaman bambu . Pelan-pelan ku sapa beliau.

“Bu… Ibu…”

Ternyata ibu juga tertidur diatas sajadahnya hingga tidak mendengar suara ku. Ku dekati beliau, tapi hati ini sepertinya tak kuasa membangunkan beliau. Ku pandangai mukenah ibu terlihat basah karena cucuran air mata yang beliau keluarkan. Aku masih teringat mukenah yang ibu kenakan adalah pemberian ayahanda saat kelahiran adik ku Dani 15 tahun yang lalu. Dan kini mukenah itu sudah terlihat lusuh, warnanya pun sudah berubah. Tapi ibu masih saja senang mengenakan mukenah itu untuk sholat. Meski ibu tidak bisa membaca Al Qur’an, tapi beliau adalah orang yang jarang meninggalkan shalat tahajud. Kadang beliau juga berkata kepada ku.

“Rin… tiap selesai sholat jangan lupa do’akan ayah mu, dan untuk keluarga. Semoga Allah selalu memberikan kebaikan untuk keluarga kita. Ibu juga akan selalu mendo’akan untuk anak-anak ibu, agar Rin cepat mendapatkan pendamping hidup”

Mungkin kini aku baru tahu, mukenah yang terlihat lusuh itu nampak basah karena cucuran air matanya mendo’akan ku dan untuk kebaikan keluarga.

“Pyarrrrrrrrrr…”

Tak sengaja tangan ku menyenggol gelas diatas meja, membuat ibu dan adik ku terbangun.

“Ada apa Rin…?”
“Engg… ini… bu… ee… nggak sengaja tadi tangan ku nyenggol gelas ibu”

Jawab ku sambil terbata-bata.

“Maaf ya bu…”
“Tidak apa-apa, tapi lain kali hati-hati?! Oh ya… sudah subuh belum?”
“Baru selesai adzan bu…”
“Kita kemasjid yuk. Dani sayang,… ayo ambil sarung dan pecinya”

Kata ibu sambil melipat sajadahnya.

Begitulah perangai ibu. Beliau orang yang sabar, yang dengan kesabarannya beliau bisa membesarkan dan merawat kami tanpa ayah.

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Perjalanan hidup seorang ibu
Penuh derita susah nan payah
Bersabar menapaki takdir-Nya
Tulusnya hati cinta Ibunda
[Nasyid : Tazakka – Kasih Ibunda]

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Usai shalat subuh, aku bantu ibu menyiapkan sayur-sayuran yang akan dijual kepasar. Meski hasil dagangan tak begitu besar, tapi Alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Disudut lain nampaknya jalan juga sudah mulai ramai oleh orang-orang yang akan pergi kepasar. Pasar Bestari, sebuah pasar Tradisional yang lumayan terkenal didaerah Sidoarjo. Selain tempatnya tertata dengan rapi dan terjaga akan kebersihannya, pasar Bestari juga pasar terlengkap sehingga membuat pembeli mudah mendapatkan apa yang diinginkan.

“Rin… ibu berangkat kepasar dulu ya. Jangan lupa sebelum berangkat Dani suruh sarapan dulu”

“Iya bu…”

Perlahan, ibu beralalu dari bayangan ku, dengan sepeda tua dan “beronjong” yang penuh sayuran ibu kayuh kepasar. Diusianya yang lumayan tua, ibu masih rela melakukan rutinitas berdagang dipasar hanya untuk mencukupi kehidupan keluarga. Tapi mungkin inilah takdirnya sebagai kepala keluarga dan ibu rumah tangga.

Ungkapan “Kasih Ibu Sepanjang Masa” memang benar-benar hanya pantas diberikan kepada beliau. Cinta kasihnya yang beliau berikan kepada anak-anaknya tiada pernah habis meski kami selaku anak banyak mengecewakan dan belum bisa memberikan kebahagiaan buat beliau. Terbukti waktu ibu mengandung, dengan cintanya ibu menjaga kandungannya. Ketika usia kehamilan semakin membesar, beliau susah sekali untuk tidur. Dan ketika yang ada didalam kandungannya lahir, begitu bahagianya ia menanti saat-saat itu. Sungguh sapaan tangisan sang bayi membuat ibu menitik-nitik air mata kebahagiaan. Dalam kehangatan dekapannya membuat sang bayi merasa nyaman disisinya. Pantas saja ketika Rasulullah ditanya “Kepada siapakah yang lebih berhak aku berbakti?” beliau menyebut “Ibumu… Ibumu... Ibumu...” sampai tiga kali. Maka persaksikanlah ibu, surga ada dibawah telapak kakinya.

Setalah sarapan aku pun berangkat kerja. Beginilah nasib ku, salah seorang yang kerja disebuah Toko Pakaian, meski hari minggu tetap masuk. Tapi dihari minggu aku biasa pulang jam 12.00, setelah itu aku bisa jaga kios ibu dipasar Bestari. Sudah menjadi kebiasaan beberapa ibu-ibu muslimah yang punya kios dipasar Bestari, adalah pengajian rutin ibu-ibu dimasjid Al Huda Bestari ba’da sholat dhuhur tiap hari minggu.

Panas matahari terasa menyengat, merasuk keseluruh sendi-sendi. Ku kayuh sepeda mini peninggalan ayahanda menuju kios ibu dipasar Bestari.

Tiba jua dikios ibu. Kios ibu memang tidak seluas dengan kios-kios yang lain. Tapi meskipun demikian, kios inilah yang memberikan hasil penghidupan bagi keluarga kami.

“Assalamu’alaikum…”

Ku sapa ibu ku yang sedang melayani pembeli.

“Wa’alaikumussalam...”

Terlihat ibu dan para pembeli serentak membalas salam ku.
Ku salami ibu dan ku cium tangannya sebagai ungkapan bakti anak kepada ibunya.

“Ini anak ibu Mirah?”
Tanya salah satu pembeli kepada ibu ku.
“Iya benar. Ini anak ku yang pertama”

Jawab ibu ku sambil membungkus sayur yang mau dibeli.

“Ternyata ibu punya anak perawan ya, cantik lagi. Sudah nikah belum nak?”
“Hmmm… dia masih suka bekerja”

Sela ibu ku dengan senyumnya.

“Bagaimana kalau saya kenalkan dengan putra ku bu? Putra ku sekarang kerja sebagai manajer disalah satu perusahaan Garment lho”

Tiba-tiba ibu mengalihkan pandangannya kepada ku.

“Terima kasih bu atas tawarannya. Masalahnya Rin masih senang bantu-bantu ibunya dipasar. Mungkin anak bu Mirna bisa dikenalkan dulu dengan wanita yang sudah siap untuk menikah”

Dengan senyumannya yang mengembang, spontan ibu belum bisa menerima tawaran bu Mirna.

“Ya sudah bu, ga pa pa. Semoga anak ibu mendapatkan yang terbaik”

Sela bu Mirna dengan perlahan-lahan sambil meninggalkan kios ibu bersama para pembeli yang lain.

Hati ku semakin galau, seakan-akan ada kesempatan yang hilang begitu saja dari ku. Meski aku belum tau anak bu Mirna seperti apa, tapi setidaknya bisa dinilai dari bu Mirna yang begitu lembut dan santun. Beliau pun juga sudah mengenakan kerudung. Tapi kenapa ibu tidak menerima tawarannya?!

“Riin… Nanti ada yang mau ambil gula. Barangnya ibu taruh diatas meja, didalam plastik hitam. Namanya pak Salamun. Jumlah total uangnya Rp. 56.000”
“Ya bu…!!” jawab ku dengan ketus.
“Eeh… kamu kenapa Rin, kok jawabnya seperti itu??!!”
“Gak kenapa-napa kok bu...!?”
“Marah ya sama ibu? Buktinya kamu kelihatan cemberut?!”

Perlahan ibu mendekati ku, mengelus-elus pundak ku, kemudian mendekap ku, seakan aku merasakan kasih sayangnya, seperti air yang menyirami taman dihati.

Dengan lirih ku mencoba berkata kepadanya.

“Bu… kenapa ibu tidak menerima tawaran ibu Mirna? Ibu sendiri kan yang selalu berdo’a agar Rin bisa cepat menemukan pasangan hidup Rin…?”
“Rin…. Ibu tau kamu ingin sekali cepat menemukan pasangan hidup mu. Tapi Ibu juga ingin Rin mendapatkan yang terbaik”

Aku tak bisa berkomentar terhadap apa yang ibu katakan kepada ku. Selama ini Ibu sudah ku percaya sebagai wanita yang begitu baik. Barangkali ibu mengharapkan agar pendamping hidup ku nanti setidaknya orang yang bisa menjadi sosok menantu juga sebagai kepala keluarga menggantikan almarhum ayahanda. Toh aku juga belum tau anak bu Mirna seperti apa, meski dia seorang manajer disebuah perusahaan, barangkali akhlaknya tidak sesuai dengan yang ibu harapkan. Tapi itulah ibu… beliau jarang mengutarkan kejelekan orang lain. Setidaknya aku bangga bisa menjadi anaknya.

“Rin… ibu berangkat pengajian dulu ya. Sudah jam 12.45. Takutnya ibu telah pengajian. Jangan lupa pesan ibu tadi.”

Seketika bayangan ibu kian memudar dari pandangan ku.

Sungguh aku bersyukur diciptakan-Nya dari sosok wanita mulia. Meski kehidupan kami cukup sederhana, tapi kesederhanaan itulah yang membawa butir-butir cinta.

Udara yang panas seakan-akan membuat badan terasa “gerah”, dan seisi ruangan pun ikut menjadi saksi atas cuaca siang ini.

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Hadirnya tanpa ku sadari
Menggamit kasih cinta bersemi
Hadir cinta insan pada ku ini
Anugerah kurniaan Ilahi
[Dehearty : Permata yang Dicari]

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

“Assalamu’alaikum…”

Terdengar sapaan salam seorang laki-laki dari depan kios.

“Wa’alaikumussalam…”

Kemudian dia masuk kios berjalan mendekati ku. Mata kami saling memandang. Entah mengapa hati ini berdebar dan lidah ini sulit untuk berucap. Didepan ku ada seorang pemuda yang begitu tampan, dengan wajah agak bulat dan berjenggot tipis. Kacamata yang dikenakannya menambah kemanisan raut wajahnya yang putih. Sesekali hanya senyuman menipis yang ku berikan untuk sedikit mencairkan kekakuan. Diapun juga membalas senyuman untuk ku. Hatiku serasa semakin tenteram dan bahagia. Seakan aku menemukan sebuah harapan. Tapi kemudian dia memberanikan diri berkata kepada ku.

“Maaf saya putranya pak Salamun, disuruh Abah untuk mengambil gula yang sudah kami pesan”
“E… e… eh… ya… sudah kami siapkan”

Dengan gugup ku mencoba mencari gula yang sudah ibu siapkan tadi. Sesegera ku berikan gula itu kepadanya. Pandanga ku tak bisa menipu. Tapi ku berusahan menundukkan padangan untuk menjaga perasaan ku.

“Uangnya berapa mbak?”

Duuh… kenapa tiba-tiba aku jadi lupa pesan ibu. Berapa tadi uang yang harus dibayarnya. Sejenak, ku mengingat-ingatnya.

“Engg… ini… totalnya Rp. 86.000”

Sesegara dia mengambil uang dari dompetnya dan memberikannya kepada ku. Kemudian dia mengucapkan terima kasih serta salam lalu dan berlalu meninggalkan kios.

Rabbi… ada apa dengan hati ini? Apakah ini namanya cinta? Baru pertama kali melihatnya ada getar jiwa yang begitu dalam. Kenapa tadi aku tidak menanyakan namanya?

“Ya Allah… jika dia benar untuk ku dekatkanlah hatinya dengan hatiku. Jika dia bukan milik ku damaikanlah hati ku dengan ketentuan-Mu”

“Assalamu’alaikum…”

Salam ibu memecahkan ketermenungan ku.

“Wa’alaikumussalam…”

Sudah jam 16.00, pantesan ibu sudah pulang. Rasanya hari ini begitu cepat beralalu.

“Gimana Rin… pesanan pak Salamun sudah diambil?”

“Alhamdulillah sudah bu, ini uangnya.”

Dengan raut wajah yang senang ku berikan uang tadi kepada ibu.

“Lho kok uangnya lebih? Pak Salamun nambah gulanya lagi ya?”

“Eemmm… tidak tu bu. Memang total sebenarnya berapa bu?”

Sela ku sambil membela diri.

“Tadi ibu kan sudah bilang sama Rin, kalau totalnya Rp. 56.000. Ini yang Rin berikan sama ibu ada Rp. 86.000”
“Astaghfirullaahal’adzim… maaf bu Rin lupa”
“Ya sudah besok biar ibu kembalikan sisanya kerumah Pak Salamun. Kan uang yang sisa bukan hak kita, dan haram bagi kita mengambil barang yang bukan hak kita”
“Ee… biar Rin saja bu besok yang ngantar sisanya kerumah Pak Salamun. Tapi rumah Pak Salamun mana ya bu?”
“Rumahnya dikampung Asri. Beliau ketua RW. 04. Kampungnya sebelah area pasar Bestari. Paling cuma setengah kilo dari sini”

Ku menawarkan diri kepada ibu mengantarkan kembalian uang kerumah Pak Salamun hanya ingin bisa bertemu dengan Pemuda yang sekarang bayangannya selalu hadir dalam pikiranku.

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Untaian bintang berkedip benderang
Menghias angkasa yang gulita
Coba aruingi malam yang sunyi
Dalam dzikir ku hati ku pada-Nya
Ya Allah kini malam-Mu tlah singgah
Didalam hati hamba-Mu yang resah
[Muhasabah : Algina T]

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Malam ini aku duduk didepan rumah. Memandangi langit yang nampak begitu cerah, bintang-bintang berkedip-kedip menambah indahnya malam yang gulita. Aku termenung, bayang-bayang ikhwan yang datang dikios ibu sore tadi masih saja memenuhi pikiran ku. Seakan-akan diri ini ingin sekali dialah yang akan menjadi pendamping hidup ku. Tapi apakah dia mau menerima ku, yang sebenarnya usia ku juga sudah lumayan tua, selain itu kehidupan ku juga cukup sederhana. Sementara dia kelihatannya masih begitu muda, anak tokoh masyarakat pula. Ah… jodoh kan tak memandang status maupun usia. Tapi, memang tak bisa ku pungkiri baru pertama kali aku melihatnya aku sudah jatuh hati.

Hati ku semakin resah dan gelisah. Menanti hari esok. Esok aku akan datang kerumahnya untuk mengembalikan sisa uang pembelian gula. Apa lebih baik aku akan mengungkapkan perasaan ku langsung kepadanya? Bukankah dulu juga pernah ada wanita yang datang kepada Rasulullah ingin mengutarakan perasaan hatinya kepada seorang laki-laki?!

“Ya Allah yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ku untuk selalu dijalan-Mu”
“Rin…. Sudah malam, kok masih duduk-duduk didepan rumah?”
“Sebentar lagi bu…”

Panggilan ibu membuyarkan kegelisahan ku. Sesegara ku masuk kerumah. Ku dekati ibu yang masih sibuk memilah-milah sayuran yang tersisa. Ku ingin ceritakan kegelisahan ku ini kepada beliau. Ibulah yang selama ini dapat memberi ku solusi disetiap masalah yang ku hadapi. Perlahan ku dekati beliau sambil bantu memilah-milah sayuran.

“Bu… tadi sore putranya pak Salamun yang ambil pesanan gulanya. Tapi Rin nggak sempat tanya namanya siapa”
“Lha trus kenapa?” tanya ibu ku.
“Sekilas Rin lihat, dia orangnya baik kok bu. Orangnya tampan, putih, jenggotnya tipis, kata-katanya santun, kalem dan pakai pakaian muslim lagi bu”
“Hmm..hmm..hmm….” ibu ku tersenyum mendengar ucapan ku.
“Emang, baik buruknya orang bisa dinilai dari pakaiannya ya?!”
“Ibu baru tahu nih, Rin menawarkan diri ngantar sisa kembalian ingin bertemu dengan putranya pak Salamun kan?!” Canda ibu pada ku.
“Ya, tapi itu nggak pokok kok bu. Yang paling pokok kan mengembalikan uang yang bukan hak kita?! He..he..he...?” jawab ku sambil meledek ibu.
“Ibu sih nggak masalah, Rin mau mengembalikan uang atau ingin ketemu anaknya Pak Salamun. Yah… semoga saja kalau itu yang Rin harapkan jadi pendamping hidup, semoga itu yang terbaik buat Rin”
“Aamiin…” jawab ku.
“Kebetulan besok dirumah bu Warsi ada acara syukuran, ibu ikut bantu-bantu dulu disana, jadi pulangnya mungkin malam”
“Ya bu. Ya sudah bu, Rin mau tidur dulu, sudah malam”

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Anginpun menari mencari arti
Adakah ini fitrah ataukah hiasan nafsu
Didalam sunyi ia selalu hadir
Didalam sendiri ia selalu menyindir
Kadang meronta bersama air mata
Seolah tak kuasa menahan duka
[Menunggu Disayup Rindu : Al Maidany]

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Lagi-lagi aku tak bisa tidur. Masih saja dihantui oleh bayang-bayang ikhwan itu. Hati ku semakin resah, bagaimana besok aku harus mengungkapkan perasaan ku padanya? Sepertinya kalau aku langsung mengungkapkan perasaan ku, itu namanya tidak sopan. Aku kan seorang akhwat, harus bisa jaga “image”.

Malam pun berlalu, dan pagi pun kembali menyapa. Selesai sarapan aku pun berangkat kerja sambil ngantar adik ku kesekolah. Tak lupa semua keperluan aku cek terlebih dahulu, termasuk uang kembalian buat pak Salamun. Ku kayuh sepeda mini tua peninggalan ayahanda bersama adik ku. Rasanya aku bahagia sekali hari ini. Sambil berjalan, Aku membayangkan,

“Bila saja aku diboncengkan ikhwan itu naik sepeda mini ini”

Duuh… alangkah indahnya, serasa dunia akan jadi milik kami berdua. Kini getar-getar cinta itu ternyata mulai memenuhi ruangan hati ku. Membuat aku tak konsentrasi kerja melayani para pembeli. Aku juga jadi sering melihat jam dinding di Toko ku. Seakan ku hitung detik demi detik yang telah terlewat.

Jam 16.00, saatnya aku diganti dengan teman-teman ku yang masuk sift kedua. Sesegara aku mengambil sepeda mini ku, ku kayuh sepada itu menuju rumah Pak Salamun. Bayang-bayang ikhwan itu masih saja mengusik dalam perjalanan ku.

Dalam kelelahan itu ku coba menanyakan kepada warga RW. 04 dimana rumah Pak Salamun. Ternyata rumahnya sudah pindah satu kilo dari rumah beliau tempati dulu. Dan akhirnya tiba juga aku disebuah rumah yang cukup mewah. Disamping rumah itu juga ada taman yang begitu indah. Hati ku semakin berdebar-debar saat aku mulai membunyikan bel yang ada didepan pintu. Tak lama kemudian keluar seorang bapak yang rambut dan jenggotnya sudah memutih dengan memakai kaos oblong dan sarung.

“Assalamu’alaikum…”

Ku ucapkan salam ku kepada beliau.

“Wa’alaikumsalam…”

Jawab beliau dengan nadanya yang begitu lirih.

“Maaf, apa benar ini rumahnya Pak Salamun?”
“Benar”
“Saya Rina pak, putrinya bu Mirah yang punya kios dipasar Bestari. Boleh saya ketemu dengan putra Bapak yang kemarin ambil pesanan gulanya Bapak?”
“Ohh… ya silahkan masuk nak… silahkan masuk. Duduk dulu, bapak panggilkan Dzaki”

Entah mengapa keringat ku tiba-tiba keluar. Degup-degup jantung ku juga semakin kencang. Sesekali ku tarik nafas dalam-dalam, dan ku keluarkan perlahan-lahan untuk mengurangi ketegangan ku.

“Assalamu’alaikum…”

Tak lama kemudian dari depan ku hadir seorang ikhwan menyapa ku. Seorang ikhwan yang pernah singgah kekios ibu mengambil pesanan gula. Sesegera ku tersenyum menyambut salamnya.

“Wa’alaikumsalam…”
“Mbak yang jaga kiosnya bu Mirah ya?”
“Iya, … disamping jaga, saya juga putrinya bu Mirah?!”

Ternyata kata-kata itulah yang akhirnya membuka hati kami untuk saling bicara dan setidaknya aku juga bisa sedikit bercanda.

“Maaf mas Dzaki, kedatangan saya kesini untuk mengembalikan uang sisa pembelian gula. Kemarin uangnya kelebihan. Jadi hari ini saya disuruh ibu untuk mengembalikannya”
“Owh… jadi merepotkan. Kok mbak tau kalau nama saya Dzaki?”
“Hhmm…. Tadi bapak mas yang manggil dengan nama Dzaki. Kalau sama pelanggan atau pembeli kan kita juga harus bisa saling mengenalnya biar lebih enak melayaninya”
“Oh… Mbaknya bisa saja”

Tapi suasana kemudian jadi sedikit hening kembali, tanpa kata, tanpa suara. Hanya detak-detak jarum jam yang terdengar meski tidak begitu keras.

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

“Yah… Ayah…”

Tiba-tiba dari balik ruangan ada anak kecil seusia 3 tahun berjalan-jalan cepat sambil memegang handphone menghampiri kami diruang tamu.

“Yah, ayah… ada telpon dari Ummi”
“Oh ya, mana sayang…” 
“Maaf mbak saya tinggal nerima telpon dulu ya”
“Oh ya silahkan…”

Mendengar itu, bumi serasa menjadi gempar. Hati ku semakin menyelisik bersama dalam dekapan kehampaan, terdiam menerima sebuah realita. Kini harapan itu telah pudar. Harapan agar bisa memilikinya untuk menjadi pendamping hidup dan ayah dari anak-anak ku nanti. Meski hati ku tak mengizinkan, tapi inilah kenyataan yang harus aku terima. Ingin sekali ku membuang kenyataan ini bersama bulir-bulir permata. Biar air mata ini jatuh sebagai saksi atas rapuhnya harapan ku. Tapi sekuat mungkin ku tahan segala bulir-bulir permata itu agar tak luluh. Karena memang bukanlah dia yang salah. Tapi ini salah ku yang mudah berharap pada seseorang yang singgah dalam hati ku.

“Maaf mbak, kalau saya tinggal menerima telpon. Istri cuma kasih kabar kalau pulangnya agak telat karena ada acara pengajian”
“Oh… tidak apa-apa… hmmmm”

Ku paksakan diri ku untuk tersenyum meski terasa berat.

“Maaf, saya langsung pamit. Sudah sore, takut kemalaman”
“Oh ya silahkan. Terima kasih ya. Salam buat bu Mirah”
“Hmmm… Insya Allah”

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Ku kayuh sepeda mini ku bersama genangan air mata yang memang tak bisa aku tahan. Langitpun mulai nampak gelap, seakan-akan ia menjadi tanda gelapnya hati ku saat ini.

Sampai dirumah aku langsung kekamar. Ingin ku teriak sekencang-kencangnya. Ingin ku mengadu kembali kehadirat-Nya.

Malam ini ku ingin mencoba mengapus segala gundah dan luka hati yang terjadi hari ini. Atas cinta yang tak mempertemukan ku dengannya dalam ikatan suci. Cinta yang mengajari ku untuk menerima apa yang telah terjadi.

“Rin…”
“Eh… ibu sudah pulang ya?”
“Gimana tadi uangnya sudah dikembalikan sama Pak Salamun. Ketemu dengan, siapa… Putranya pak Salamun yang tampan itu?”
“Hngg… sudah bu”
“Lho kok Rin nggak seneng?! Kan habis ketemu sama yang Rin idam-idamkan?! Kenapa mata Rin kelihatan bengap begitu?”

Ibu mendekati ku, kemudian duduk disamping ku dan mendekap ku. Dalam dekapannya aku benar-benar merasakan kehangatan kasih sayangnya.

“Kenapa Rin sedih lagi, ceritakan sama ibu”
“Mungkin dia belum jodoh Rin bu. Dia sudah punya istri dan anak”

Tanpa terasa bulir-bulir permata indah itu menetes lagi. Kini butiran itu menitik dalam dekapan ibu atas kedukaan yang ku hadapi.

“Sabar ya Rin… Allah pasti akan memberikan yang terbaik buat Rin. Dia pasti akan datang disaat yang tepat”

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Sabarlah menunggu janji Allah kan pasti
Hadir tuk datang menjemput hati mu
Sabarlah menanti usahlah ragu
Kekasih kan datang sesuai dengan iman dihati
[Al Maidany]

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Kata-kata ibu membuat aku merasa mempunyai harapan lagi. Memang aku harus bersabar atas apa yang terjadi. Aku juga harus yakin bahwa saat aku lahir Allah sudah menentukan

“Rizki, ajal dan jodohku”

Barangkali Allah masih merahasiakannya untuk menguji ku.

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Hari demi hari tak terasa sudah sebulan lebih telah ku lalui. Ku ingin membuka lembaran baru ku, membuang jauh hari-hari yang telah berlalu, menata kembali tiap serpihan hati ku yang retak tersakiti karena sikap ku sendiri. Aku harus yakin bahwa Allah telah menyedikan jodoh untuk ku. Kalaupun Allah tidak mempertemukan kami didunia semoga diakhirat kelak kami bisa dipertemukan.

Ku jalani rutinitas hari ini dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan. Serasa ku menemukan dunia baru. Ada juga kejutan yang ku terima dari Bu Aminah, salah satu orang tua murid privat ku. Beliau memberi ku sepasang pakaian muslimah, dan tambahan uang saku, karena putranya mendapatkan peringkat satu.

Sesampainya dirumah aku ingin memberikan surprize juga buat adik ku. Sudah lama adik ku ingin dibelikan sepatu baru. Alhamdulillah, hari ini ternyata aku bisa membelikannya. Sesekali aku juga ingin mengajaknya lagi malam ini kepasar Malam Minggu.

Kali ini ku ajak adik ku menikmat nasi goreng spesial. Disela-sela kami berdua sedang menikmati nasi goreng, tiba-tiba dari samping ku ada seoarang laki-laki duduk dan kemudian menyapa ku,

“Maaf, Mbak Rina Alfianti ya?”
“Iya benar, Maaf Anda siapa?”
“Masih ingat dengan saya, saya Wisnu Wardana yang ikut di Rohis SMA kita dulu”

Sejenak ku pandang dia, terhenyak tak menyangka dia masih mengingat ku. Sementara aku hampir lupa.

“Oh… iya.. maaf Kak. Hampir lupa. Kesini sama siapa kak?”
“Sendiri, emang mau sama siapa? Cuma ingin cari suasana untuk menenangkan pikiran”
“Ternyata Rin masih seperti yang dulu ya. Kalem, bicaranya lembut dan masih setia dengan jilbab juga”

Ucapan kak Wisnu tiba-tiba membuat ku tersenyum sipu malu. Pernah waktu SMA dulu Kak Wisnu mengungkapkan perasaannya kepada ku, tapi aku belum bisa menerimanya dihati ku. Walau sebenarnya hati ini pun juga menaruh cinta untuknya. Bukan maksud ku melukai hati seseorang, karena waktu itu aku ingin menjadi wanita yang baik, dan aku ingin bisa berprestasi. Aku memang tahu Kak Wisnu sering dapat rangking dikelasnya. Maka dari itu aku tak ingin prestasinya menurun cuma gara-gara terkena virus merah jambu. Hingga akhirnya aku sering menjaga jarak dengannya.

Entah kenapa kali ini dia hadir kembali dihadapan ku. Mungkinkah perasaannya yang dulu pernah ia utarakan kepada ku, akan ia utarakan kembali. Sebenarnya itu pun juga harapan ku yang selama ini menanti hadirnya seorang kekasih yang akan menemani hari-hari ku. Meski begitu aku juga harus bisa menjaga hati ini. Ku tak ingin hati ini tersakiti lagi untuk yang kedua kalinya.

Selesai makan nasi goreng, kami bertiga jalan-jalan mengelilingi pasar Malam Minggu. Tapi malam memang tak mengijinkan kami untuk berlama-lama menikmati pasar Malam Minggu. Langit yang tadinya nampak mendung, akhirnya kini setetes demi setetes air turun kebumi. Saat itulah kami berpisah, karena daerah kami berbeda dan tak sejalan. Tapi sepertinya hati ini tak rela bila kami cepat berpisah. Seakan-akan ada ungkapan yang masih terpendam yang coba ingin kami utarakan. Hanya tatapan mata, itu pun dengan malu-malu tuk kami saling memandang. Hingga…

“Rin, bolehkah besok Sabtu sore saya berkunjung kerumah mu bersama orang tua saya?”

Ucapan itu seolah menjawab ungkapan-ungkapan kami yang masih terpendam. Dan aku tahu ucapan itu adalah sebentuk harapannya untuk meminang ku.

“Kalau Kak Wisnu sudah mantap dan mengharapkan, silahkan…”
Sambil tersenyum ku berikan ucapan itu sebagai bentuk pengaharapan ku jua.
Ku bersyukur, hari ini memang hari yang penuh berkah. Ku kembalikan semua ini kepada sang pemilik cinta.
Sesampai dirumah sesegera ku temui ibu yang sedang istirahat sambil menjahit baju.

“Bu… maaf kalau Rin ganggu. Besok Sabtu sore Kak Wisnu yang dulu teman sekolah Rin di SMA mau silaturahim kesini bersama orang tuanya”
“Ya silahkan… kalau ada orang mau silaturahim kerumah. Semoga saja mendatangkan berkah”

Jawab ibu ku yang kelihatan lelah.

“Tapi kedatangan kak Wisnu sepertinya mau meminang Rin bu?”

Sesaat ibu mengalihkan pandangannya kepada ku. Mungkin ibu belum mempercayainya, kenapa tiba-tiba ada lelaki yang langsung ingin meminang ku.

“Rin…. Apa Rin nggak pikirkan matang-matang dulu? Ibu Cuma tidak ingin apa yang menimpa Rin dulu akan terjadi lagi”
“Insya Allah Rin sudah siap bu. Rin tahu kok siapa kak Wisnu”

Jawab ku sambil membela diri. Tapi memang itulah harapan ku dulu yang ingin mendapat cinta kak Wisnu.

“Ya sudah. Ibu cuma bisa berharap Rin cepat mendapatkan yang terbaik. Yang penting jangan lupa untuk istikharah dulu. Mohonlah bimbingan-Nya. Karena Dialah yang Maha Terbaik pemberiannya”

Malam ini ku mencoba untuk berikhtiar, jika kak Wisnu adalah yang Allah berikan untuk ku, semoga dialah yang terbaik buat ku. Ku berharap malam inilah malam semua harapan-harapan dan do’a ku selama ini terkabulkan. Dalam sujud panjangku ku mohon kehadirat-Nya:

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Oh Tuhan, seandainya telah kau catatkan
Dia milikku tercipta untuk diriku
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan

Ya Allah ku mohon apa yang telah Kau takdirkan
Ku harap dia adalah yang terbaik buat ku
Kerana Engkau tahu segala isi hati ku

[Inteam : Do’a seorang kekasih]

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Kini Sabtu pun hadir. Saatnya aku menata hati ini, agar niatan ini tak salah lagi. Ternyata benar, Kak Wisnu datang bersama keluarganya. Ibu dan pak RT kemudian menyambutnya. Tapi hati ini sepertinya masih berdebar-debar. Bila selama ini ku merasa sedih dalam penantian, mungkinkah hari ini adalah jawaban atas semua kesedihan itu. Setelah proses maksud keluarga selesai, sesegara ku ikut duduk diruang tamu. Ku lihat Kak Wisnu seperti tegang, seolah ia benar-benar sedang menanti jawaban ku. Dengan terbata-bata dan keyakinan hati “aku terima”. Tanpa terasa butir-butir kristal ini akhirnya jatuh karena kebahagiaan. 

Ternyata kini Allah menjawab semua do’a-do’a ku dan ibu ku selama ini.

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Sejujurnya aku menghitung hari
Disertai debaran dihati
Karena ini kan jadi satu episode baru dalam hidup ku
Terus terang aku menginginkan niat ini tak mau tertahan
Semoga dia kan selami jiwa bahwa hidupnya denganku
[Faliq : Debaran]

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

Disudut lain, hati Wisnu kini semakin berdebar-debar menunggu hari-hari yang ditentukan nanti. Saat-saat yang indah, yang setelah sekian lama ia nanti. Kini cintanya yang ia pendam sejak SMA telah terbalas. Tak sekedar cinta semu, tapi cinta yang akan mengikatnya dalam ikatan suci.

.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.

(Selesai.....)
SHARE TWEET

0 comments:

Posting Komentar

Tolong yah Kawan untuk berbagi komentar anda di blog saya, satu kata yang anda tulis sejuta pahalanya bagi anda ^^v